Pelaksanaan Program TB Yang Berpihak Pada Pasien

Joseph Novi  menuturkan "kadangkala pelayanan kesehatan terlalu cuek dengan pasien, saya merasa kurang diperlakukan dengan baik padahal saya ingin berkonsultasi mengenai penyakit saya", dia menambahkan "bahkan suatu ketika, ada seorang pasien yang dibentak dan akhirnya jatuh pingsan karena dia terlalu sore meminta waktu untuk minum obat, meski tidak jelas pingsannya karena apa".

Joseph adalah mantan pasien TB Kebal obat (TB MDR) yang telah sembuh. Dia menceritakan pengalamannya ketika menjadi pasien penyakit yang memerlukan penanganan rumit, baik dari sisi medis maupun dukungan psikososial ini.   Apa yang dialami Joseph mungkin saja terjadi terjadi dalam suatu lembaga layanan publik seperti rumah sakit. Bagaimanapun, dokter, perawat dan pasien adalah elemen  yang saling terkait dan berhubungan dengan fungsi dan kepentingan masing-masing. Joseph mungkin ada diantara 331.424 pasien TB di Indonesia (angka menurut Global Tuberculosis Report 2012) yang mempunyai hak untuk sembuh.  Penanganan yang sesuai dengan kebutuhan mereka akan membantu pencapaian tujuan program TB nasional.

Adalah hak pasien untuk mendapatkan pelayanan terbaik.  Pasien tentu  menginginkan layanan yang berpihak pada kebutuhan mereka. Bila pasien tidak nyaman dalam menjalankan pengobatnnya seperti yang dialami Joseph, mereka dapat saja putus berobat. Bila salah penanganan atau putus berobat maka pasien TB  akhirnya akan menimbulkan TB Kebal obat. Lebih dari itu, Sebagai penyakit menular, TB akan menyebar ke orang lain, terutama yang berada di lingkungan pasien itu sendiri. Bisa terbayangkan efek domino bila ini terjadi.

Untuk mengetahui layanan yang berpihak pada pasien  maka diperlukan panduan dan standar operasional untuk mengimplementasi Pendekatan Berbasis Pasien (Patient Centered Approach/PCA) yang sesuai dengan situasi dan kebutuhan di Indonesia. Untuk itulah diadakan Workshop Pendekatan Berbasis Pasien (PCA) di Hotel Acacia, Jakarta, 14-15 April 2014. Difasilitasi TB CARE I yang didanai USAID dan dihadiri 25 orang peserta dari Subdit TB, dinas kesehatan provinisi, lembaga swadaya masyaraka, mantan pasien dan sebagainya , serta menghadirkan Sara Massaut sebagi nara sumber.

Lokakarya ini adalah bentuk tindak lanjut dari penelitian PCA sebelumnya. Penelitian PCA sendiri telah dilakukan di beberapa negara seperti Kamboja, Zambia, Nigeria, Mozambique. Di  Indonesia, uji coba PCA telah dilakukan di Jawa Barat pada 3 kabupaten yaitu Cimahi, Cianjur dan  Bandung pada November 2012 - Januari 2013.  Uji coba Pendekatan berbasis pasien ini mengunakan tiga instrument yakni Piagam Hak dan Kewajiban Pasien TB, Quote TB light  dan perkiraan biaya yang diperlukan oleh pasien untuk mengakses pengobatan TB (Patient Cost).

Keluaran dari penelitian itu antara lain menghasilkan temuan-temuan berupa informasi  tingkat pengetahuan dan persepsi pasien serta penyedia layanan kesehatan dalam pelayanan pengobatan TB, faktor sosial budaya dan konteks yang mempengaruhi health beliefs dan health seeking behaviour terkait TB serta kisaran biaya yang dibutuhkan pasien dalam mencari dan mematuhi pengobatan TB, dan yang terakhir adalah  gambaran pelayanan TB dalam hal ketersediaan dan akses terhadap pelayanan TB

Berdasarkan pembelajaran dari uji coba PCA di Jawa Barat ini maka lokakarya PCA ini menghasilkan  kerangka dasar panduan dan standar prosedur operasional untuk implementasi PCA.   Tentu saja, penerapan paket ini tidak secara otomatis menghasilkan keberpihakan pada pasien, namun alat ini memungkinkan pasien TB untuk berpartisipasi dan terdengar suaranya oleh program pengendalian TB, khususnya di Indonesia.