PANTER Yang Peduli Sesama

Bisakah anda bayangkan bila kita harus menghabiskan 20 butir obat per hari atau  600 butir obat dalam sebulan atau total 114.000 butir dalam 19 bulan masa pengobatan?  apalagi ditambah bonus efek samping yang harus dirasakan.  Tentu sangat berat bukan?

Inilah kenyataan yang harus dilakukan bila seorang penderita TB Kebal obat (TB Multi-Drug Resistant/MDR) menjalani pengobatannya. Adalah hal yang sangat luar biasa bila seseorang mampu memotivasi dirinya untuk terus menjalani pengobatan seberat itu hingga sembuh.

Dukungan orang-orang terdekat tentu sangat diperlukan. Namun pada kenyataanya tidak selalu demikian.  Ada kalanya pasien TB MDR tidak mendapatkan dukungan psikososial yang memadai, bahkan lebih jauh mereka dikucilkan karena stigma penyakit menular masih melekat di diri mereka. Hilangnya motivasi dan beratnya masa pengobatan kadang membuat para pasien menjadi frustasi dan menghentikan pengobatannya. Sejak layanan TB MDR dimulai pada Desember 2010 di Rumah Sakit Saiful Anwar, dari 102 pasien  yang menjalani pengobatan TB MDR, 15 diantaranya memilih berhenti pengobatan.

Saiful Rizal, pasien TB MDR pertama yang sembuhSaiful Rizal, mantan pasien pertama yang berhasil sembuh dari  TB MDR di Rumah Saiful Anwar Malang, seperti di kutip Radar Malang (26/03/2014) contohnya, sempat berfikir untuk menyerah karena tidak kuat dengan pengobatan yang harus dijalaninya. Tetapi dia berfikir, jika bukan dirinya yang berjuang atas penyakit yang diderita, siapa lagi yang akan peduli. Akhirnya niat berhenti tidak jadi dan dia melanjutkan terapi.

Motivasi seperti yang dimiliki oleh Saiful Rizal inilah seharusnya dimiliki oleh semua pasien TB MDR. Namun keadaan  setiap orang tentu berbeda. Seringkali orang kurang bisa memotivasi dirinya sendiri dan butuh dukungan orang lain. Karena itu , atas kesadaran bersama yang tumbuh di hati para pasien TB MDR maka dibentuklah lembaga bernama PANTER.

PANTER atau Pantang Menyerah adalah organisasi pasien TB MDR di Rumah Sakit  Saiful Anwar Malang yang bertujuan memberikan dukungan moral dan menumbuhkan semangat kepada pasien yang sedang menjalani pengobatan  serta melakukan upaya sosialisasi informasi kepada masyarakat tentang TB MDR. Secara resmi PANTER  didirikan pada tanggal 19 Februari 2014 sebagai bentuk kepedulian terhadap para penderita TB MDR, namun  peluncurannya baru dilakukan pada saat peringatan Hari TB Sedunia pada tanggal 24 Maret lalu. Saat ini PANTER memiliki 10 orang anggota dengan Saiful Rizal sebagai kordinator.

Organisasi pasien TB MDR yang telah terbentuk  seperti PANTER, PETA (Pejuang Tangguh) di Rs. Persahabatan Jakarta, Paguyuban Pasien di Rs. Dr. Soetomo Surabaya  dan SEMAR  (Semangat Membara) di Rs Moewardi Solo, Jawa Tengah patut diapresiasi. Pembentukan organisasi-organisasi pasien ini difasilitasi oleh TB CARE I yang didanai USAID melalui kegiatan  lokakarya "peer educator" atau pendidik sebaya. Konsep "peer educator" adalah memberikan motivasi dan edukasi dari pasien ke pasien. Pasien yang telah sembuh dilatih, diberdayakan, disiapkan lewat serangkaian pelatihan dan bimbingan untuk kemudian dapat berperan dalam mendukung dan mendampingi pasien TB MDR yang masih dalam masa pengobatan. Pada akhirnya mereka dimotivasi untuk membentuk organisasi pasien ini.

Sebagai perkumpulan mantan pasien dan berhasil sembuh dari TB MDR atau tengah menjalani pengobatanya, tentu saja mereka dapat lebih efektif dan insiprasitif kala memberikan motivasi kepada pasien karena mereka lebih tahu apa yang dirasakan pasien TB MDR.

Menyerah berarti kalah atau pada keadaan semestinya tidak boleh ada dalam kamus hidup seorang pasien TB MDR yang tengah menjalani pengobatan. Bila dukungan lingkungan terdekat dirasakan kurang, masih ada dukungan lain dari orang lain yang berada di organisasi pasien seperti PANTER. Seperti yang menjadi spirit PANTER , Bersama Peduli Sesama, maka tak ada kata kalah bagi pasien TB MDR.