Penta Helix untuk Jabar Bebas Tuberkulosis 2027

Penta Helix adalah teori perubahan yang diemban oleh Jabar dalam pemerintahannya. Lima unsur pembangunan tersebut merupakan jalinan kerjasama antar lini/bidang, yaitu ABCGM Academic, Business, Community, Government, dan Media, jalinan tersebut juga diharapkan dapat mendukung eliminasi TBC di Jabar pada tahun 2027. Hal tersebut disampaikan dalam sambutan Gubernur Jawa Barat yang diwakilkan oleh Dr. H. Rudi Sudrajat Abdulrohim MT, selaku Asisten Sekretaris Daerah Provinsi Jawa barat pada acara Lokakarya Berbagi Pembelajaran Proyek Challenge TB dan Sosialisasi Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 12 Tahun 2019 tentang Rencana Aksi Daerah Penanggulangan Tuberkulosis (RAD TB) di Graha Tirta Siliwangi, 30 April 2019 lalu.

Sosialisasi Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 12 Tahun 2019 tentang Rencana Aksi Daerah Penanggulangan Tuberkulosis (RAD TBC) Provinsi Jawa Barat dipaparkan oleh Dr. Ida Wahida Hidayati SH, SE, Msi selaku Ka Biro Yanbangsos Setda Jabar. Dalam pembukaannya beliau menyampaikan permasalahan Jabar dengan total penduduk sejumlah 49 juta tetapi saat ini baru memiliki 5 rumah sakit dari 18 RS yang melayani TBC resistan obat (RO),sedangkan Jabar merupakan provinsi pertama dengan beban TBC tertinggi di Indonesia, selain stunting dan narkoba.

Rencana Aksi Daerah merupakan hal yang sesuai dengan Visi Pemerintah Jawa Barat 2018-2023 : “Terwujudnya Jawa Barat Juara Lahir Batin dengan Inovasi dan Kolaborasi ” dimana di misi keduanya tercantum melahirkan Manusia yang berbudaya, berkualitas, bahagia dan produktif. RAD penting karena: (1)Beban TB yang berat dan mendesak untuk ditangani (2) Penanggulangan TBC tidak cukup ditangani oleh Dinas Kesehatan (3) Peraturan dan kebijakan: UU No 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah : urusan kesehatan adalah urusan konkuren wajib bidang pelayan publik dasar, SPM bidang kesehatan dasar, meliputi penanggulangan TBC, RAN Penanggulangan TBC: Rencana Aksi Daerah merupakan bentuk komitmen pemeringah daerah. Dr. Ida juga mengatakan bahwa akan mengingatkan Gubernur Jabar untuk menyampaikan RAD dan TBC dalam setiap pidato beliau. Beliau juga menyayangkan karena baru berinterkasi dengan CTB di 3 bulan terakhir ini

Serangkaian talkshow juga dilangsungkan dalam acara ini, diawali dengan topic RAD dengan narasumber dari Dinkes Kab Bogor, Bappeda Cirebon dan Dinkes Provinsi Jabar. Kemudian dilanjutkan dengan topic DPPM dengan narasumber Dinkes kota Bandung Rosye, KOPI TB prov Jabar dan TBC Working Group PUSDI Unpad. Talkshow penutup adalah topic Lab dengan narasumber dari RSHS: dr. Basti, RSUD Cibinong dan BBKPM Bandung.

Kemudian untuk sesi pembelajaran proyek Challenge TB dibagi menjadi 5 topik, topic RAD, MTPTRO, DPPM, LAB dan Surveilans, hasil yang diharapkan adalah kabupaten lain semakin banyak yang termotivasi, dan terinspirasi untuk melakukan hal yang sama untuk eliminasi TBC di Jabar.

dr. Yani Ahmad Marzuki, Kandinkes Pangandaran mengatakan yang pertama adalah RAD, mengadakan advokasi ke Bupati dengan Bappeda sehingga TBC mendapat anggaran, sehingga sebelum tahun 2027 sudah ada RAD. Dan peningkatan jejaring LAB, jemput bola ke Puskesmas.

Bpk. Epi Priatna, Wasor Purwarkarta, mengatakan komitmennya sebagai wasor adalah “kita menjadi pejuang pemberantas TBC, apapun situasi kondisi di kabupaten masing-masing, kita harus cari peluang dan kesempatan terutama ikhlas dan sabar untuk memberantas TBC”. RAD diharapkan dapat selesai di tahun 2020 juga, dengan adanya Sitrust dan DPPM penemuan kasus di Purwarkata menjadi meningkat hingga 70%.

Wasor Karawang, mengatakan "RAD TBC diharapkan menjelang akhir tahun sudah selesai. Workshop DPPM sudah dianggarakan dan juga pembentukan KOPI TB, sehingga dapat juga mengimplementasi WiFi TB. Permasalahan tentang diagnosis TBC, alat TCM hanya dua dan salah satu modulnya rusak , sehingga ada penumpukan sampel, yang akhirnya menjadi kendala."

dr. Wawan Ridwan, Kabid P2P Kabupaten Indramayu, mengatakan "(Akan) diagendakan membuat RAD dan advokasi ke Bupati yang saat ini sudah terdeteksi TBC RO, sedangkan pengobatannya masih diluar wilayah. DPPM, beberapa ormas yang dapat diajak kerjasama untuk penanggulangan TBC, termasuk MUI yang dapat menjangkau Pondok Pesantren, dan organisasi kepemudaan seperti Pemuda Pancasila dan FKKPI sehingga terbentuk kemitraan PPM".

Harimukti, Wasor Bekasi, mengungkapkan komitmennya bahwa "Kami adalah PPM, yaitu 42 Puskesmas, 42 RS (baru sekitar 60% yang MOU DOTS). Puskemas akan melibatkan klinik swasta dan DPM untuk bekerja sama. Kemudian LAB, TCM ada di RSUD dengan utilisasi sampai 300% dan sekarang mendapatkan 2 TCM lain, karena dapat mendiagnosis TBC Sensitif Obat. Sayangnya di P2P tidak ada anggaran sama sekali sehingga rencana kegiatan yang sudah dibuat di tahun 2018 semoga dapat terlaksana di 2019". (TR)

 Klik di sini untuk dokumentasi foto lainnya