Peluncuran Awal Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia 2019 dan Peringatan 70 tahun Kemitraan Amerika Serikat dan Indonesia

"Kendati kata 

... tak terucap

Kendati rasa

... tak terungkap

Kendati sakit 

... tak terasa"

Bait puisi tersebut merupakan penggalan puisi yang dibacakan oleh Ibu Nurlelah, ibunda dari Alfiyah (16 tahun), puisi tersebut menggambarkan keadaan Alfiyah, penyandang down syndrome yang sembuh dari Tuberkulosis Kebal Obat dengan metode pengobatan shorter regimen selama 9 bulan. Alfiyah tidak dapat berbicara, jadi saat ia mengalami efek samping ia harus menggunakan bahasa tubuhnya, “Alfiyah memegang telinganya, saat ia merasakan sakit di telinganya” cerita Ibu Alfiyah. Selain Alfiyah, Varel, 8 tahun dan Ibunya, turut membacakan puisi. Varel pun adalah anak tuna rungu dan tuna wicara, sehingga saat ia membacakan puisi, ia menggunakan bahasa isyarat dan didampingi dan diterjemahkan oleh ibunya.

Pembacaan puisi tersebut merupakan pembukaan dari acara Peluncuran Awal Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS) 2019 dan Peringatan 70 tahun Kemitraan Amerika Serikat dan Indonesia di Taman Lumbini, Candi Borobudur pada tanggal 10 Maret 2019 yang lalu. Puisi tersebut kemudian mendapat tanggapan dari Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, “Saya tidak tahu harus berkata apa atas testimoni kedua anak tadi, apakah saya harus bersedih atau bergembira…”katanya. 

Tuberkulosis merupakan penyakit lampau, salah satu alasan peringatan peluncuran awal peringatan HTBS 2019 ini diperingati di Candi Borobudur karena di salah satu panel bagian dari relief Lalitavistara menggambarkan situasi saat Pangeran Siddharta bertemu orang yang terlihat sangat kurus, seperti menderita suatu penyakit, orang tersebut yang diduga menderita sakit tuberkulosis. Faktanya, Indonesia masuk urutan ketiga terbesar dunia kasus TBC setelah India dan China. Lebih dari 300 orang meninggal setiap harinya karena TBC. Oleh karena itu, Candi Borobudur dapat menjadi pembelajaran yang memungkinkan dicapainya potensi tertinggi keberadaan manusia dan menghubungkan dengan tema global HTBS “It’s Time" maka sudah saatnya Indonesia juga untuk eliminasi TBC. Dalam sambutan Gubernur, Ganjar Pranowo menyampaikan bahwa sebagai bentuk keseriusannya untuk menanggulangi TBC di seluruh Jawa Tengah adalah melalui PerGub aksi daerah penanggulangan TBC dan berharap melalui hal tersebut, Jateng bisa menjadi wilayah penyangga eliminasi TBC nasional.

Dalam kesempatan ini juga memperingati 70 tahun kemitraan Amerika Serikat dan Indonesia. “Tahun ini kita merayakan 70 tahun hubungan diplomatik kedua negara, dan kami memiliki harapan untuk masa depan, yaitu Indonesia bebas TBC pada 2030, dan masa depan yang sejahtera dan sehat bagi kedua negara,” demikian kata Duta Besar Donovan. Direktur USAID, Erin E McKee juga menyampaikan pendekatan baru dari USAID yaitu Global Accelerator to End TB, USAID akan bermitra menggabungkan kekuatan investasi, komitmen bersama, dan solusi lokal untuk semakin menurunkan beban TBC Indonesia.

Pada acara tersebut, Kementerian Kesehatan juga meluncurkan kampanye investigasi kontak nasional. “Investigasi kontak bertujuan untuk menemukan pasien TBC dan TBC laten, yaitu pasien yang tidak atau belum menunjukkan gejala,” demikian kata Dirjen Anung. “Selain itu, pada Hari TBC Sedunia tahun 2019 ini akan dilakukan penemuan aktif dan masif kasus TBC di 34 provinsi dan 514 kabupaten/kota yang dilakukan secara bersamaan dengan target pemeriksaan sebanyak 1 juta orang. ”Investigasi kontak ini akan membantu lebih banyak individu yang berisiko (seperti mereka yang bekerja dekat dengan pasien TBC) yang dapat menjalani pemeriksaan dan dirujuk untuk dirawat jika tertular TBC. Setelah sambutannya, Dirjen Anung juga memberikan apreasi kepada Gubernur Ganjar beserta perwakilan TNI, Pesantren, Lembaga Permasyarakatan (Lapas), sektor swasta, LKNU, Aisyiyah dan POP TB (Perhimpunan Organisasi Pasien TB) atas kontribusinya dalam penemuan aktif pasien TBC di wilayah mereka. Kampanye investigasi kontak berhasil didramatisasikan oleh para kader dari LKNU, Aisyiyah dan POP TB dengan penampilan yang luar biasa. Para kader tersebut kemudian melakukan kegiatan investigasi kontak dengan mengunjungi meja-meja para tamu. 

Sebagai gambaran tentang kegiatan penanggulangan tuberkulosis yang dilakukan oleh USAID melalui proyek Challenge TB yang dipimpin oleh KNCV Tuberculosis Foundation maka dilakukan melalui pameran “A Story of Hope”, diharapkan pameran tersebut dapat menggambarkan pendekatan terkait penanggulangan TBC serta testimoni dari para pasien TBC yang sudah sembuh. Pameran “A Story of Hope” dibuka untuk umum pada 12-20 Maret di Universitas Gadjah Mada dan Erasmus Huis di Jakarta hingga April. Pameran ini juga akan digelar bersamaan dengan acara penutupan proyek Challenge TB di enam provinsi area kerja, yaitu; di DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatra Utara, dan Papua.

Acara Peluncuran Awal Peringatan HTBS 2019 dan Peringatan 70 tahun Kemitraan Amerika Serikat dan Indonesia ditutup dengan penampilan Adhitia Sofyan. Dirjen Anung menutup sambutan dengan kutipan dari Henry Ford “Coming together is a beginning, Keeping together is a progress and Working together is a success” atau dalam paribasan Jawa “saiyeg saeka praya, bebarengan mrantasi gawe” untuk mencapai Indonesia Bebas TBC 2030. (TR)

 

Untuk dokumentasi dapat klik di tautan: Peluncuran Awal Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS) 2019 dan Peringatan 70 tahun Kemitraan Amerika Serikat dan Indonesia