Best Practice Jejaring Laboratorium Jakarta Selatan: Pertemuan Mandiri Triwulan Monitoring dan Evaluasi Jejaring Internal Satu

Dalam mewujudkan visi Indonesia untuk terbebas dari TBC pada tahun 2020 serta eliminasi pada tahun 2030, perlu adanya penemuan kasus TBC sebanyak-banyaknya untuk dilaksanakan sesuai standar pengobatan TBC nasional hingga paripurna.

Salah satu indikator yang dapat mengindikasikan variabel temuan kasus dan talaksana adalah angka utilisasi alat tes cepat molekular (TCM). Adapun diagnosis terduga TBC sesuai dengan juknis Permenkes 67 tahun 2017 menyatakan bahwa pemeriksaan molekuler dengan alat TCM memiliki sensitifitas dan akurasi tinggi terhadap dahak dan spesimen tubuh lainnya selain cairan pleura. Pertimbangan lain adalah alat TCM ini juga dapat mendeteksi ada tidaknya rifampisin resisten guna mempercepat ketepatan pengobatan TBC yang diperlukan oleh pasien.

Per Desember 2018, saat ini 635 unit alat TCM telah tersebar di berbagai provinsi dan distrik-distrik kabupaten di Indonesia, dibandingkan tahun 2012 yang hanya 5 unit saja. Diharapkan dengan kemudahan pelayanan kesehatan bawah untuk mengakses TCM sebagai gold standard diagnosis TBC maka Indonesia dapat mendapatkan angka temuan kasus yang mencapai jumlah nyata dan sebenarnya di lapangan sebagai target pengobatan yang sesuai standar.

Demi mengakomodir fasilitas kesehatan (faskes) swasta maupun puskesmas tingkat kelurahan yang tidak memiliki unit TCM maka dibentuklah suatu jejaring. Jakarta Selatan merupakan distrik pertama di Indonesia yang menerapkan pertemuan monitoring dan evaluasi jejaring TCM dengan menganggarkan dana Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) di setiap triwulan guna memfasilitasi koordinasi dan audiensi antara faskes jejaring non TCM dengan faskes TCM serta Suku Dinas Kesehatan (sudinkes) Jakarta Timur maupun Dinas Kesehatan (dinkes) DKI Jakarta. Pertemuan ini sangat bermanfaat karena mampu mengidentifikasi kendala di lapangan yang menghambat tercapainya target persentase utilisasi TCM nasional seperti:

  1. Belum tersedianya informasi kepada seluruh tim klinisi faskes bahwa diagnosis terduga TBC menggunakan pemeriksaan TCM bukan IGRA (Interferon Gamma Release Assays) atau pemeriksaan mikroskopis BTA.
  2. Adanya peraturan dari faskes TCM yang mengenakan biaya loket kepada faskes jejaringnya yang hendak menghantarkan sampel dahak untuk pemeriksaan TCM.
  3. Masih ada faskes TCM yang menggunakan alat geneXpert ini untuk pemeriksaan viral load dan tidak menginformasikan ke sudinkes terkait sehingga seolah-olah kinerja dari petugas laboratorium maupun poli tidak maksimal karena utilisasi yang belum mencapai target.
  4. Kurangnya SDM di faskes TCM sehingga membatasi jam layanan pemeriksaan sampel TCM.
  5. Faskes TCM menerima sampel terduga TBC dari 9 kriteria ditambah kriteria TBC anak, TBC Diabetes Melitus, dan TBC-HIV saja untuk kiriman dari jejaring eksternalnya.

BEST PRACTICE JEJARING LABORATORIUM JAK-SEL PERTEMUAN MANDIRI TRIWULAN MONEV JEJARING INTERNAL SATU

Best practice berupa kegiatan monitoring dan evaluasi jejaring terjadwal ini telah berhasil ditiru di distrik-distrik lain seperti Jakarta Timur dan Jakarta Barat. Melihat besarnya manfaat dari pertemuan rutin ini maka sangat didorong agar kegiatan ini dapat ditiru secara mandiri khususnya di distrik lain di DKI Jakarta maupun provinsi lain di Indonesia agar program nasional penanggulangan TBC tetap bahkan diharapkan lebih dapat bertahan setelah proyek CTB berakhir (CLI/AR)