Apa Inovasi yang dibutuhkan untuk Investigasi Kontak Kasus Tuberkulosis yang efektif di Indonesia?

Rabu, 14 November 2018 di Makassar. Sebuah panel diskusi yang membahas “Apa Inovasi yang dibutuhkan untuk Investigasi Kontak Kasus Tuberkulosis yang efektif di Indonesia?” baru saja dihelat, acara ini merupakan bagian dari rangkaian acara loka karya Tuberculosis Short Course yang diadakan oleh Australian Award in Indonesia bekerja sama dengan Burnet Institute and Menzies School of Health Research.

Partisipan pada acara ini adalah; para alumni dari Short Course yang diadakan di Australia pada bulan September lalu. Partisipan tersebut berasal dari pulau Jawa, Sumatra, dan beberapa dari Timur Indonesia. Panelis yang hadir pada acara diskusi tsb yaitu; Bapak Imran Pambudi, MPHM selaku Kasubdit TB, Bapak Bey Sonata selaku direktur operasional KNCV Indonesia, A/Prof Anna Ralph dari Menzies School of Health Research, Dr. Phillipp du Cross dari Burnet Institute. Dan dimoderatori oleh Dr. Trisasi Lestari.

Beberapa hasil diskusi dalam kegiatan tsb antara lain. Menurut Bapak Imran, inovasi yang perlu dilakukan dalam kasus TB adalah dengan mengubah pola kerja eliminasi TB dan dengan melibatkan JKN/BPJS lebih jauh. Ia juga meminta agar semua level membuat list permasalahan dalam penemuan kasus TB sehingga NTP dapat lebih memahami masalah tsb dan menemukan solusinya bersama. Sedangkan Bapak Bey mengatakan bahwa program yang sudah dilakukan sekarang lebih baik diperbaiki terlebih dahulu, karena perubahan program membutuhkan proses. Dr. Phillipp mengusulkan bahwa perlu adanya kompensasi bagi penderita kasus TB selama menjalani pengobatan.

Kegiatan ini ditutup dengan serah terima cindera mata dari Australian Award of Indonesia kepada para panelis dan foto bersama para partisipan. (ARS)