Dalam mewujudkan visi Indonesia untuk terbebas dari TBC pada tahun 2020 serta eliminasi pada tahun 2030, perlu adanya penemuan kasus TBC sebanyak-banyaknya untuk dilaksanakan sesuai standar pengobatan TBC nasional hingga paripurna.

Salah satu indikator yang dapat mengindikasikan variabel temuan kasus dan talaksana adalah angka utilisasi alat tes cepat molekular (TCM). Adapun diagnosis terduga TBC sesuai dengan juknis Permenkes 67 tahun 2017 menyatakan bahwa pemeriksaan molekuler dengan alat TCM memiliki sensitifitas dan akurasi tinggi terhadap dahak dan spesimen tubuh lainnya selain cairan pleura. Pertimbangan lain adalah alat TCM ini juga dapat mendeteksi ada tidaknya rifampisin resisten guna mempercepat ketepatan pengobatan TBC yang diperlukan oleh pasien.

Dengan akan berakhirnya pendampingan KNCV melalui proyek Challenge TB DKI Jakarta pada pertengahan tahun 2019 maka tuntas sudah salah satu visi misi dari pendampingan tersebut dalam program penganggulangan TBC yaitu menciptakan suatu sistem pemantapan mutu eksternal terstandarisasi nasional demi ketepatan diagnosis dan follow up pengobatan TBC di Indonesia.

Adapun di dalam sistem tersebut ditargetkan bahwa setiap kabupaten yang didampingi oleh Challenge TB diharapkan dapat mampu memiliki minimal satu LRI (Laboratorium Rujukan Intermediate) dan melayani quality control atas seluruh faskes pemberi layanan pemeriksaan dan pengobatan TBC dapat berpartisipasi dalam program PME (Pemantapan Mutu Eksternal). Untuk DKI Jakarta sendiri, terdapat 5 distrik pendampingan Challenge TB yaitu Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Selatan, dan Jakarta Utara. Proses pembentukan LRI telah berjalan di tahun 2017 dan pada saat itu RSUD Pasar Rebo yang menjadi LRI pertama untuk wilayah Jakarta Timur dan pada tahun 2018 dikuti oleh 3 RSUD lainnya yaitu RSUD Pasar Minggu (Jakarta Selatan), RSUD Koja (Jakarta Utara), dan RSUD Cengkareng (Jakarta Barat). Dalam kurun waktu tersebut Jakarta Pusat masih belum memiliki LRI sehingga tanggung jawab tersebut dipegang oleh labkesda selaku Laboratorium Rujukan Provinsi DKI Jakarta.

Kasus tuberkulosis masih merupakan momok bagi Indonesia meskipun WHO telah merilis peringkat terbaru di tahun 2019 terkait beban TB dunia yang menyebutkan bahwa Indonesia mengalami perbaikan dari peringkat kedua menjadi ketiga untuk saat ini.

Hal ini berarti bahwa upaya yang lebih keras lagi masih perlu ditingkatkan diseluruh jajaran praktisi kesehatan Indonesia. Salah satunya adalah keterlibatan Pemantapan Mutu Eksternal (PME) dari pemeriksaan mikroskopis TB yang berlangsung di layanan faskes Indonesia khususnya adalah sektor swasta. Pemerintah Indonesia sendiri telah memberikan maklumat dalam Permenkes Nomor 41 tahun 2010, terkait keterlibatan laboratorium swasta yang seyogyanya diminta untuk turut mendukung program kesehatan nasional dan berpartisipasi dalam PME. Khusus dalam pelayanan pemeriksaan diagnosis TB, LKS (Laboratorium Klinik Swasta) wajib melapor kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota terkait (mandatory notification). Meskipun telah terdapat himbauan tersebut, belum seluruh faskes swasta menganggap keterlibatan PME ini sebagai suatu hal wajib karena akreditasi khususnya RS dan Lab swasta masih terbatas pada PME yang dikeluarkan oleh divisi patklin (Patologi Klinik) saja.

Penyakit tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi yang penularannya melalui percikan bahan infeksius (airborne infection) yang mengandung kuman M. tuberculosis di udara. Mudahnya proses penularan ini perlu diikuti dengan peningkatan keakuratan diagnosis dan monitoring follow up pengobatan guna mencapai eliminasi kasus TB.

Halaman 2 dari 17