Manusia dewasa menghabiskan sepertiga waktu hidupnya di tempat kerja. Ada kontak sangat erat antara rekan kerja di suatu tempat kerja. Baik pengaturan ruang kerja di maupun kantor saat ini memposisikan pekerja berada di ruang bersama. Pengaturan ruang kerja ini memudahkan penyebaran penyakit TBC, dari seorang penderita TBC terkonfirmasi berpotensi untuk menyebarkan ke 10-15 pekerja lainnya. Hal ini lah yang menelisik suatu perhatian khusus untuk menggarap kasus Tuberkulosis di tempat kerja yang belum mendapatkan porsi perhatian memadai dari kedua institusi besar yaitu Dinas Tenaga Kerja (disnaker) dan Dinas Kesehatan (dinkes) DKI Jakarta.

Penyakit tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi yang penularannya melalui percikan bahan infeksius (airborne infection) yang mengandung kuman M. tuberculosis di udara. Mudahnya proses penularan ini perlu diikuti dengan peningkatan keakuratan diagnosis dan monitoring follow up pengobatan guna mencapai eliminasi kasus TB.

(Jakarta, 21/1/2019) Dibuka oleh Kasubdit TB – Bapak Imran Pambudi, perwakilan KOMLI – Bapak Sudijanto, dan Direktur Teknis KNCV – Bapak Bey Sonata. Pada pembukaan dipaparkan bahwa kegiatan ini bertujuan agar mendapatkan masukan, dan berbagi pengalaman (baik kendala dan best practices).

“Alfiyah ini pintar loh bu, di sekolah hanya ia yang sudah dapat menulis dengan baik” kata Ibu Alfiyah. Alfiyah (16 tahun) gadis cilik yang pintar dan murah senyum ini telah menjalani pengobatan jangka pendek untuk TB MDR selama 9 bulan. Kendati Alfiyah tidak dapat berbicara, ia dapat mengungkapkan efek samping yang ia alami dengan bahasa tubuhnya. “Saat telinganya sakit, ia akan memegang kedua telinganya dan ia menepuk-nepuk punggungnya kalau pegel,” cerita ibu Alfiah.

Halaman 5 dari 20