Lingkup Kerja Teknis

Universal and Early Access

TB CARE I memiliki perhatian untuk menjamin layanan TB yang universal and early access melalui ekspansi public-private mix (PPM) dengan melibatan penyedia jasa layanan kesehatan swasta dalam program TB-DOTS (Direct Observed Treatment Short Course). DOTS merupakan pengawasan langsung pengobatan jangka pendek dan strategi yang direkomendasikan WHO dalam mendeteksi dan menyembuhkan tuberkulosis. Ekspansi PPM juga dilakukan dengan meningkatkan jejaring rumah sakit yang telah menerapkan DOTS, pencegahan TB di penjara dan lembaga pemasyarakatan, layanan TB untuk masyarakat di daerah terpencil/daerah dimana akses masih terbatas atau rendah dalam pencapaian indikator angka penemuan kasus (case notification rate). PPM adalah jejaring kegiatan pengendalian tb antar fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) pemerintah atau swasta, lembaga swadaya masyarakat melalui penerapan ISTC (International Standard Tuberculosis Control yang berkualitas di bawah koordinasi Program TB Nasional (NTP). ISTC andalah standar internasional pengenadalian tb.

 

Laboratorium

Kualitas laboratorium Tuberkulosis (TB) memainkan peranan yang penting dalam pemberantasan TB, khususnya untuk diagnosa, penanganan tindak lanjut dan menganalisa hasil pengobatan. Pada umumnya diagnosa tb dilakukan dengan 3 cara yakni pemeriksaan mikroskopis (Direct smear microscopy), biakan dan uji kepekaan M. tuberculosis (Culture/Drug Susceptibility Testing) dan Tes TB yang cepat seperti GeneXpert and LPA (Line Probe Assay).

USAID melalui proyek TB CARE I memberikan dukungan dalam memperkuat sistem dan jaringan laboratorium dengan cara meningkatkan kapasitas teknis laboratorium, meningkatkan pemantapan mutu eksternal (External Quality Assuarnce), meningkatkan kapasitas biakan dan uji kepekaan M.tuberculosis dan mendukung pemanfaatan alat diagnostik yang baru yakni GeneXpert MTB/RIF yang direkomendasikan WHO pada akhir tahun 2010.

Saat ini Indonesia telah memiiki tujuh laboratorium uji kepekaan M. tuberculosis yang telah tersertifikasi yaitu Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya, Laboratorium Mikrobiologi, Universitas Indonesia, RS. Persahabatan Jakarta, Balai Laboratorium Kesehatan (BLK) Bandung, NHCR Makassar, BLK Semarang dan BLK Jayapura. Sementara itu tiga laboratorium lainnya sedang dalam proses sertifikasi, yakni Mikrobiologi Universitas Gajah Mada, RS. Adam Malik Medan dan BBLK Jakarta. Proses sertifikasi ini dilakukan oleh Laboratorium Rujukan Supranasional, IMVS/SA Pathology, Adelaide, Australia dengan dukungan dari USAID melalui proyek TBCARE I.

 

Pengendalian Infeksi (Infection Control)

TB-IC (TB-Infection Control) atau pengendalian TB adalah pencegahan dan pengendalian infeksi tuberculosis. TB CARE I berperan dalam mempercepat pelaksanaan strategi-strategi TB-IC dalam penyusunan pedoman nasional pencegahan dan pengendalian infeksi TB, melakukan asesmen terhadap pelayanan kesehatan, membantu in-house training bagi petugas kesehatan (health worker) serta melakukan pengawasan dan evaluasi (monitoring and evalution) terhadap program pengendalian TB.

 

TB Resisten Obat (TB Multi-Drug Resistant)

TB CARE I berfokus pada pengendalian TB Resisten obat (Drug Resistant TB) melalui program PMDT (Programmatic Management of Drug Resistant Tuberculosis) atau MTPTRO (Managemen Terpadu Pengendalian Tuberkulosis Resisten Obat) dengan meningkatkan kualitas program PMDT di 10 provinsi yaitu di Sumatera Utara Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI. Yogyakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Papua dan Bali. SuDukungan TB CARE I lainnya adalah memberikan bantuan teknis pada pengembangan layanan PMDT di provinsi lainnya. Saat ini di 10 provinsi yang didukung TB CARE I telah beroperasi 10 RS rujukan PMDT dan 3 RS sub-rujukan PMDT serta total 413 satelit PMDT. Bantuan teknis yang diberikan dalam upaya melengkapi dukungan operasional dari Global Fund (GF ATM) dalam Program PMDT ini.

 

TB HIV

TB merupakan infeksi oportunistik terbanyak dan penyebab utama kematian pada orang dengan HIV dan AIDS (ODHA). Kolaborasi TB-HIV adalah upaya pengendalian kedua penyakit dengan mengintegrasikan kegiatan kedua program secara fungsional, baik pada aspek menajemen kegiatan program maupun penyediaan pelayanan bagi pasien .

Tujuan kolaborasi ini untuk mengurangi beban kedua penyakit tersebut secara efektif dan efisien melalui pembentukan mekanisme kolaborasi program TB dan HIV/AIDS, menurunkan beban TB pada ODHA (IPT, intensifikasi penemuan kasus TB dan pengobatan, PPI TB di layanan kesehatan), dan menurunkan beban HIV pada pasien TB (menyediakan tes HIV; pencegahan HIV; pengobatan preventif dengan kotrimoksasol; dan Perawatan, dukungan dan pengobatan HIV).

TB CARE I memberikan dukungan teknis dalam perencanaan, pelaksanaan, dan monitoring kolaborasi TB-HIV di Indonesia. Mulai pertengahan 2013, TB CARE I mendampingi Subdit TB dan Subdit AIDS dalam kegiatan tes HIV pada seluruh pasien TB dan inisiasi dini ART tanpa melihat nilai CD4 pada pasien koinfeksi TB-HIV.

 

Sistem Penguatan Kesehatan (Health System Strengthening)

TB CARE I yang didanai USAID mendukung Health System Strengthening termasuk pengembangan sumber daya manusia dan mendukung pengembangan strategi pengakhiran (exit strategies) untuk mendapatkan pendanaan TB yang baru setelah proyek berakhir dengan penekanan pada biaya, alokasi dana pemerintah dan peningkatan pendapatan lainnya (misalnya dari asuransi).

 

Monitoring & Evaluasi, Surveilans, Riset Operasional

Dukungan dalam monitoring dan evaluasi, survailans serta riset operasional adalah memperkuat surveilans TB nasional, meningkatkan kapasitas analisis dan pemanfaatan data yang berkualitas untuk pengambilan keputusan dan meningkatkan kapasitas penelitian operasional bagi pengambilan kebijakan. TB CARE I memberi dukungan kepada Subdirektorat TB, Kementerian Kesehatan dalam upaya pengeintegrasian Sistem Informasi Tuberkulosis Terpadu (SITT) untuk kasus TB reguler ke dalam Sistem Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS) Online. Untuk kasus TB kebal obat (TB MDR), TB CARE I mendukung implementasi dan perbaikan e-TB Manager secara terus menerus.

Riset Operasional TB adalah penelitian mengenai strategi, intervensi, teknologi atau pengetahuan untuk meningkatkan kualitas, cakupan, efektifitas atau kinerja program pengendalian TB. Riset operasi yang didukung oleh TB CARE I juga bersinggungan dengan penelitian dan pengembangan teknologi kesehatan dan mendukung pembiayaan riset operasi di bidang TB pada anak, koinfeksi TB dan HIV, TB resisten obat dan AKMS (advokasi, komunikasi dan mobilisasi sosial). Hasil riset operasi tersebut telah disebarluaskan. Pada 2013, TB CARE I mendukung dipublikasikannya salah satu produk riset operasional di jurnal kesehatan masyarakat internasional.

 

Manajemen Logistik Obat (Drug Supply and Management)

Peningkatkan Manajemen Logistik obat adalah masalah yang sangat penting bagi program TB nasional untuk menjamin tidak terputusanya pasokan obat TB lini pertama dan kedua di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan. Obat lini pertama adalah obat untuk penderita TB biasa, sedangkan obat lini ke dua adalah obat untuk penderita TB resisten obat (TB Multi-drug resistant). Peran TB CARE I dalam manajemen logistik obat dimulai dari pemilihan obat, pengadaan, distribusi dan penyimpanan, serta pengawasan dan evaluasi dari manajemen logistik obat tersebut. Dukungan lain TB CARE I berupa dukungan manajemen yang terdiri dari atas penguatan sistem informasi manajemen dalam bentuk implementasi E-TB Manager, pembuatan buku pedoman logistik dan Standar prosedur operasional (SOP), pendanaan dan pelatihan dalam manajemen logistik obat.