Figur di Balik Peningkatan Mutu Lab TB

Foto: Para petugas lab ketika mengikuti lokakarya peningkatan mutu lab TB di Bogor (28/7/2017)

Program penanggulangan tuberkulosis (TB) di Indonesia dilaksanakan dengan menerapkan strategi directly observed treatment, short-course (DOTS) yang mencakup lima komponen kunci, antara lain, penegakan diagnosis dengan konfirmasi bakteriologi (Standar Pelayanan Laboratorium Tuberkulosis, Kemenkes 2015). Penegakan Diagnosis TB dilakukan dengan pemeriksaan bakteriologis yang umumnya dilakukan dengan tiga cara: 
  1. Pemeriksaan mikroskopis langsung
  2. Pemeriksaan biakan
  3. Pemeriksaan uji kepekaan obat
Hingga Oktober 2015, terdapat 13 laboratorium yang sudah disertifikasi untuk uji kepekaan obat antituberkulosis lini pertama. Lima di antaranya juga telah disertifikasi untuk obat antituberkulosis lini kedua. Uji kepekaan ini diperlukan untuk mengidentifikasi adanya kuman kebal obat. Pengembangan lab biakan dan uji kepekaan membutuhkan dukungan dari semua pihak karena membutuhkan sumber daya yang besar.

Dengan adanya lab berkualitas, pengobatan dapat dilakukan secepat mungkin sehingga rantai penularan di masyarakat dapat diputus.

Simak wawancara Challenge TB dengan empat tokoh di balik pengembangan mutu lab TB: Harini Janiar (HJ), Senior Lab Officer for KNCV; Sandeep Meharwal (SM), Senior TB Lab Adviser for USAID-DELIVER, Indonesia; Roni Chandra (RC), Lab Officer for KNCV; dan Novia Rachmayanti (NR), Lab Officer for KNCV.

1. Ceritakan tentang perjalanan karier Anda. Mengapa profesi ini pas untuk Anda?

HJ: Setelah menyelesaikan tugas sebagai dokter INPRES pada 1985, saya melanjutkan pendidikan spesialisasi patologi klinik (PK). Disiplin ilmu dalam PK terkait dengan semua pemeriksaan lab klinik untuk diagnosis penyakit. Saya mempelajari pentingnya sarana dan prasarana, pengetahuan, serta keterampilan SDM bagi kinerja lab. Pemantapan mutu internal maupun eksternal sangat penting untuk menjamin akurasi dan validitas hasil lab yang berpengaruh dalam pengelolaan klinis pasien -- tidak saja untuk diagnosis, tapi juga pemantauan hasil terapi dan penentuan ramalan perjalanan penyakitnya.   

SM: Saya seorang ahli mikrobiologi terlatih dengan pengalaman kerja yang panjang untuk pelatihan lab TB, seperti menyiapkan SOP, mengembangkan standar keamanan hayati, menerapkan jaminan mutu, serta secara terpadu meningkatkan kapasitas lab di negara-negara dengan beban TB yang tinggi. Jaringan lab TB di Indonesia masih perlu dukungan untuk menangani beban kerja yang banyak dan mendayagunakan perubahan teknologi yang cepat.

RC: Peran ini cocok dengan saya karena latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja, seperti lab rumah sakit, perusahaan farmasi multinasional, dan universitas.

NR: Sejak kuliah saya menekuni penelitian mikrobiologi molekuler dasar dan berlanjut ke terapan. Sejak tergabung dalam penelitian vaksin DNA untuk demam berdarah dengue, saya semakin tertarik dengan biologi medis. Dengan bergabung bersama KNCV, saya dapat berkontribusi untuk kesehatan masyarakat sesuai bidang yang saya tekuni.

2. Apa spesialisasi Anda?

HJ: Mengembangkan jejaring lab TB, menyusun pedoman teknis lab TB, serta menyusun pedoman dan supervisi terkait implementasi jaminan mutu eksternal.

SM: Spesialisasi saya adalah mikrobakteriologi, penyakit menular, diagnostik molekuler, kesehatan masyarakat, penelitian operasional, jaminan mutu, manajemen proyek, penghubung instansi pemerintah, dan keamanan hayati. Semua keterampilan ini diperlukan untuk memberikan bantuan teknis untuk lab ke dalam program pengendalian TB.

RC: Penguatan jejaring dan pemantapan mutu lab TB merupakan area spesialisasi saya saat ini. Pada awalnya, saya tertarik dengan penguatan lab TB karena lab TB di Indonesia masih berada pada fase pengembangan dan belum ada yang disertifikasi untuk pemeriksaan biakan dan uji kepekaan bakteri TB.

NR: Spesialisasi saya di bidang virologi, mikrobiologi molekuler, dan biologi medis. Di negara tropis seperti Indonesia, bermacam-macam mikroba bisa tumbuh. Seringkali mikroba tsb. menimbulkan penyakit, seperti kuman TB. Sangat penting bagi kita untuk mempelajari bagaimana cara mengendalikan mereka agar tidak membahayakan kehidupan manusia. 

3. Menurut Anda, apa kontribusi terpenting yang pernah Anda buat terkait lab TB ?

HJ: Membangun tujuh lab TB rujukan di tujuh provinsi, yakni Kep. Riau,  Bangka Belitung, Sulawesi Barat, Papua Barat, Gorontalo, Maluku Utara, dan Banten; menyusun pedoman untuk pemeriksaan lab TB: Mikroskopis dan C/DST; serta menyusun pedoman teknis untuk jaminan mutu eksternal dan mikroskopis.

SM:  Saat saya mengambil gelar doktoral di India. Saya terlibat dalam pembangunan lab TB, yang kemudian ekspansi ke pendirian lab rujukan langsung, memperkuat Lab Rujukan Nasional, membangun program jaminan mutu, penggunaan diagnostik baru, serta secara keseluruhan memperkuat jaringan lab TB di India, Vietnam, dan Indonesia. Saya juga terlibat dalam penyusunan program manajemen lab TB yang telah diluncurkan di Vietnam dan India. Hal ini membantu Vietnam mendapatkan sertifikasi internasional untuk dua lab. Selain itu, pengembangan strategi transportasi spesimen di Indonesia adalah salah satu capaian bagi saya.

RC: Membantu pengembangan lab uji kepekaan bakteri TB dalam penatalaksanaan pasien TB kebal obat. Sampai Mei 2016, sedikitnya 13 lab uji kepekaan telah disertifikasi.  Selain itu, membantu pengenalan dan pengembangan tes cepat molekuler TB/TCM TB di Indonesia juga menjadi pencapaian bagi saya. Tentu saja keberhasilan tersebut bukan semata kontribusi saya pribadi tetapi kerja sama dan dukungan dari banyak pihak, seperti Kemenkes, Lab Rujukan Supranasional, Lab Rujukan Nasional, dan mitra lain yang tidak bisa disebutkan satu per satu.

NR: Kontribusi terpenting bagi saya adalah saat ikut dalam membentuk SOP dan petunjuk teknis tes cepat molekuler untuk TB, bekerja sama dengan Lab Rujukan Nasional dalam membangun jejaring komunikasi dengan seluruh lab tes cepat molekuler di Indonesia, dan menganalisis data untuk dapat digunakan sebagai acuan rencana pengembangan di masa depan.
 
4. Apa yang Challenge TB saat ini lakukan terkait pencapaian strategi nasional untuk pengendalian TB di area lab?

HJ: Bimbingan teknis untuk teknisi lab di Indonesia dan penguatan jaringan lab TB sebagai lab bermutu.

SM: Sebuah perencanaan yang konkret, rencana pelaksanaan yang jelas dan hubungan yang kuat dengan pemangku kepentingan.

RC: Bekerja sama dengan Subdirektorat TB untuk membuat Rencana Aksi Nasional terkait lab dan penerapannya. Salah satu prioritasnya adalah membantu pengembangan pemanfaatan tes cepat molekuler secara luas untuk meningkatkan penemuan kasus TB dan TB kebal obat.

NR: Segera mendesentralisasi pelatihan dan melakukan pengawasan ke tingkat provinsi agar program TB dapat diperluas dengan cepat.

5. Apa pesan Anda bagi para petugas lab TB?

HJ: Terapkan Petunjuk Operasional dengan bertanggung jawab dan seksama untuk setiap tes yang Anda lakukan terhadap pasien. Ikuti semua metode terbaru dan pilih metode terandal dan cocok dengan Indonesia. 

SM: Anda adalah tulang punggung program dan peran Anda sangat besar untuk program penanggulangan TB nasional. Selalu konsisten berpedoman pada Petunjuk Operasional.

RC: Tetap semangat berjuang untuk pasien TB. Nasib mereka juga dipengaruhi oleh seberapa baik kualitas Anda dalam melakukan pemeriksaan lab.

NR: Memiliki peralatan lab yang canggih bukanlah hal yang utama dalam pengerjaan teknis lab, yang terpenting adalah mengutamakan keamanan dan keselamatan kerja. (TR)