Tim Lab Challenge TB

Mengenal figur di balik Laboratorium TB

Program penanggulangan penyakit TB di Indonesia dilaksanakan dengan menerapkan strategi DOTS (Directly Observed Treatment, Short-course) yang mencakup lima komponen kunci diantaranya adalah penegakan diagnosis dengan konfirmasi bakteriologi (Standar Pelayanan Laboratorium Tuberkulosis, Kemenkes 2015). Penegakan Diagnosis TB dilakukan dengan pemeriksaan bakteriologis yang umumnya dilakukan dengan 3 cara:
 1.Pemeriksaan mikroskopis langsung (Direct Smear Microscopy)
 2. Pemeriksaan biakan (Culture)
 3.Pemeriksaan uji kepekaan obat  (Drug Susceptibility Testing)

Sampai bulan Oktober 2015, terdapat 13 laboratorium yang sudah tersertifikasi untuk uji kepekaan OAT (Obat Anti Tuberkulosis) lini pertama dan 5 lab diantaranya juga tersertifikasi untuk OAT lini kedua.Uji kepekaan ini diperlukan untuk mengidentifikasi adanya kuman kebal obat. Pengembangan lab biakan dan uji kepekaan membutuhkan dukungan dari semua pihak karena membutuhkan sumber daya yang besar.

Dengan adanya lab yang berkualitas, penegakan diagnosis TB harus ditindak lanjuti dengan pengobatan kepada pasien secepat mungkin untuk mempercepat proses penyembuhan dan mencegah kerusakan yang lebih luas serta untuk memutuskan rantai penularan di masyarakat.

Berikut adalah wawancara Challenge TB dengan beberapa figur dibalik pengembangan kualitas Lab TB: Harini Janiar (HJ), KNCV Senior Tehnical Officer Laboratory; Sandeep Meharwal (SM), Senior TB Lab Advisor USAID-DELIVER, Indonesia , Roni Chandra (RC) KNCV Tehnical Officer Laboratory dan Novia Rachmayanti (NR) KNCV Tehnical Officer Laboratory.


harini janiar

1. Ceritakan tentang perjalanan karir Anda. Mengapa karir ini pas untuk Anda?

HJ: Tahun 1985 setelah menyelesaikan tugas sebagai dokter INPRES saya melanjutkan pendidikan spesialisasi Patologi Klinik (PK). Disiplin ilmu dalam PK mengenai semua pemeriksaan laboratorium klinik untuk diagnosis penyakit. Saya mempelajari pentingnya pemenuhan persyaratan sarana, prasarana dan pengetahuan serta keterampilan SDM laboratorium karena sangat mempengaruhi kinerja laboratorium. Pemantapan mutu internal maupun eksternal sangat penting untuk menjamin akurasi dan validitas hasil laboratorium yang sangat berpengaruh dalam pengelolaan klinis pasien, bukan saja untuk diagnosis tapi ••juga pada pemantauan hasil terapi dan menentukan ramalan perjalanan penyakitnya.   

SM: Saya seorang ahli mikrobiologi terlatih dengan pengalaman kerja yang lama untuk  pelatihan laboratorium TB, menyiapkan SOP , mengembangkan standar keamanan hayati , implementasi jaminan kualitas dalam program, secara keseluruhan mencakup peningkatan kapasitas laboratorium TB di negara-negara dengan beban TB yang tinggi . Jaringan laboratorium TB di Indonesia masih perlu dukungan untuk menangani beban kerja yang banyak dan mendaya gunakan cepatnya perubahan teknologi.

RC: Saat ini saya ditugaskan sebagai STO (Senior Technical Officer) Lab oleh organisasi.  Peran ini cocok dengan saya karena latar belakang pendidikan dan juga pengalaman bekerja di berbagai laboratorium mulai dari laboratorium rumah sakit,   laboratorium mikrobiologi perusahaan farmasi multinasional dan laboratorium Universitas.

NR: Sejak kuliah saya menekuni bidang penelitian mikrobiologi molekuler dasar dan terus berlanjut hingga ke mikrobiologi terapan. Sejak tergabung dalam penelitian vaksin DNA untuk Demam Berdarah Dengue, saya semakin tertarik dengan biologi medis. Dengan bergabung bersama KNCV, saya dapat berkontribusi untuk kesehatan masyarakat sesuai bidang yang saya pelajari.

2. Apakah spesialisasi Anda?

HJ: Mengembangkan jejaring Lab TB, menyusun pedoman teknis Lab TB dan menyusun pedoman dan supervisi terkait implementasi EQAs (External Quality Assurance).

SM: Spesialisasi saya adalah mikrobakteriologi , penyakit menular, diagnostik molekuler, kesehatan masyarakat, penelitian operasional, jaminan kualitas , manajemen proyek, penghubung dari instansi pemerintah, keamanan hayati. Semua keterampilan ini diperlukan untuk memberikan bantuan teknis untuk laboratorium ke dalam program pengendalian TB.

RC: Penguatan jejaring dan pemantapan mutu Laboratorium TB merupakan area spesialisasi saya saat ini.  Yang membuat saya tertarik bekerja di bidang penguatan lab TB awalnya adalah karena pada saat itu laboratorium TB di Indonesia masih dalam tahap awal pengembangan dan belum ada satupun laboratorium yang tersertifikasi untuk pemeriksaan biakan dan uji kepekaan M. tuberculosis.

NR: Spesialisasi saya di bidang virologi, mikrobiologi molekuler, dan biologi medis. Di negara tropis seperti Indonesia dimana bermacam-macam mikroba bisa tumbuh dan seringkali juga menimbulkan penyakit-contohnya kuman TB, sangat penting untuk kita mempelajari bagaimana cara mengendalikan mereka agar tidak membahayakan kehidupan manusia. 

3. Menurut pendapat Anda, kontribusi terpenting yang pernah Anda buat terkait laboratorium TB ?

HJ: Membangun tujuh Lab TB rujukandi 7 provinsi: Kep. Riau,  Bangka Belitung, Sulawesi Barat, Papua Barat, Gorontalo, Maluku Utara dan Banten. Menyusun pedoman untuk pemeriksaan TB Lab: Mikroskopis dan C/DST; Menyusun pedoman teknis untuk EQAS dan mikroskopis.

sandeepSM:  Saat saya mengambil Ph.D di India, saya terlibat dalam pembangunan Lab TB, yang kemudian ekspansi ke pendirian RL (Intermediate Refernce Laboratory), memperkuat NRL (National Reference Laboratory), membangun program QA (Quality Assurance), penggunaan diagnostik baru dan secara keseluruhan memperkuat jaringan lab TB di India, Vietnam dan Indonesia. Saya juga terlibat dalam penyusunan program Manajemen laboratorium TB yang telah berhasil diluncurkan di Vietnam dan India. Hal ini membantu Vietnam dalam mendapatkan " ISO " sertifikasi untuk dua laboratorium, yang menurut saya adalah suatu pencapaian. Mengembangkan strategi transportasi spesimen di Indonesia juga adalah salah satu capaian.

RC: Saat saya membantu pengembangan lab uji kepekaan M. tuberkulosis untuk mendukung penatalaksanaan pasien TB resisten obat.  Sampai bulan Mei 2016 sudah terdapat 13 lab uji kepekaan yang tersertifikasi.  Selain itu adalah membantu pengenalan dan pengembangan tes cepat molekuler TB/ TCM TB di Indonesia. Tentu saja keberhasilan yang diperoleh saat ini bukan semata kontribusi saya pribadi tetapi melibatkan kerjasama dan dukungan dari banyak pihak mulai dari Kemenkes RI, Lab Rujukan Supranasional, Lab rujukan Nasional dan mitra lain yang tidak bisa disebutkan satu per satu.

NR: Kontribusi yang paling penting adalah saat ikut dalam membentuk SOP dan petunjuk teknis tes cepat molekuler untuk TB, bersama dengan lab rujukan nasional membangun jejaring komunikasi dengan seluruh Lab tes cepat molekuler di Indonesia, dan menganalisis data untuk dapat digunakan sebagai acuan rencana
pengembangan di masa depan
 
4. Apakah yang sekarang dilakukan Challenge TB terkait tercapainya strategi nasional untuk pengendalian TB di area laboratorium?

HJ: Bimbingan teknis untuk teknisi lab  di Indonesia dan Penguatan Jaringan Lab TB sebagai Lab yang berkualitas.

SM: Sebuah perencanaan yang konkret, rencana pelaksanaan yang jelas dan hubungan yang kuat dengan pemangku kepentingan.

RC: Bekerja bersama dengan Subdit TB untuk membuat Rencana Aksi Nasional terkait laboratorium berikut dengan implementasinya.  Salah satu prioritasnya adalah membantu pengembangan pemanfaatan TCM secara luas untuk meningkatkan penemuan kasus TB dan TB resisten obat.

NR: Segera mendesentralisasi pelatihan dan supervisi ke tingkat provinsi agar perluasan program TB dapat berjalan dengan cepat.

5. Pesan untuk petugas Lab TB?

HJ: Terapkan Petunjuk Operasional dengan  bertanggung jawab secara seksama untuk setiap tes dari pasien. Ikuti semua metode terbaru dan pilih metode yang paling dapat diandalkan dan cocok dengan Indonesia. 

SM: Mereka adalah tulang punggung program dan peran mereka sangat besar untuk program penanggulangan TB nasional. Selalu konsisten berpedoman pada Petunjuk Operasional.

RC: Tetap semangat berjuang untuk pasien TB.  Nasib mereka juga dipengaruhi oleh seberapa baik kualitas kita dalam melakukan pemeriksaan lab.

NR: Memiliki peralatan lab yang canggih bukanlah hal yang utama dalam pengerjaan teknis lab, yang terpenting adalah mengutamakan keamanan dan keselamatan kerja. {TR}