Kekuatan Sebuah Rasa Syukur

Foto: Ully Ulwiyah menceritakan pengalamannya di AS (24/3/2015)

Ully Ulwiyah (28 tahun) adalah seorang ibu yang juga mantan pasien TB kebal multiobat. Pada 24 Maret 2015, ia berkesempatan untuk berkunjung ke Washington DC, Amerika Serikat dalam rangka peringatan Hari TB Sedunia. Di sana Ully menceritakan tentang pengalamannya hingga akhirnya ia bebas dari TB kebal multiobat.

Sebelum keberangkatan tersebut, Ully sempat berkunjung ke KNCV Jakarta. Berikut adalah rangkuman dari wawancara kami bersama Ully.

Sewaktu Ully berusia 10 tahun, ia mengalami batuk darah. Tetapi karena kurangnya informasi, orang tuanya tidak mencari pengobatan lebih lanjut walaupun Ully sudah sempat di-rontgen. Ketika ia berumur 12 tahun, tantenya yang berprofesi sebagai bidan mendapati kejanggalan terhadap berat badan Ully yang tak kunjung naik. Setelah itu, Ully diberikan puyer yang harus diminum setiap harinya selama enam bulan. Kejenuhan dan kebosanan serta kurangnya pengawasan membuat ia hanya meminum obatnya selama empat bulan. "Bila ibu saya tanya, apakah saya sudah minum obat atau belum, saya jawab sudah. Padahal obatnya saya buang," cerita Ully. Walaupun batuknya sembuh, badannya tetap kurus.

Karena pengobatan yang tidak selesai, Ully yang saat itu sudah duduk di bangku SMA kembali menderita batuk dengan jangka waktu yang lama. Ully kemudian memeriksakan diri ke puskesmas lalu berdasarkan hasil rontgen dan tes sputum, Ully dinyatakan positif TB. Ully kemudian menjalani pengobatan teratur selama enam bulan. "Tetapi, karena tidak melakukan pemeriksaan akhir, baik itu rontgen atau sputum saya tidak tahu apakah saya sudah sembuh atau belum," ujar Ully.

Batuk yang sama berulang kembali pada 2006. Kali ini Ully berobat ke rumah sakit swasta di Jakarta Timur. Jenis pengobatan yang ia ambil kali ini berbeda. Ia harus disuntik selama dua bulan setiap harinya dan minum obat selama sembilan bulan. "Saya hanya mendapat suntik selama 47 kali dari 60 kali yang diharuskan, karena waktu itu saya positif hamil." Setelah menjalani pengobatan, pada 2007 Ully dinyatakan sembuh berdasarkan hasil rontgen dan sputum.

Walaupun Ully sudah dinyatakan sembuh, ia kembali batuk dan diobati pada 2009. Dokter kemudian merujuk ia ke salah satu rumah sakit untuk berobat. Tetapi karena saat itu juga Ully sedang mengandung anak kedua dan obat yang tersedia tidak boleh diminum oleh ibu hamil, ia disarankan untuk menyelesaikan pengobatan awal dan cek kultur di Lab. Mikro UI. Setelah dua bulan, hasil kultur tersebut negatif dan hasil pemeriksaan mikroskopis juga negatif. Januari 2011, saya dinyatakan sembuh.

"Pada Maret 2011, saya kena radang paru-paru akut. Sehingga saya harus dirawat di ICU selama 10 hari. Pada Mei 2011, saya dinyatakan positif TB kebal multiobat berdasarkan hasil cek kultur," cerita Ully. Sejak saat itu ia menjalani pengobatan TB kebal multiobat dengan datang ke rumah sakit untuk disuntik setiap hari selama enam bulan dan minum obat setiap hari selama 22 bulan. Di awal pengobatan, Ully hanya perlu meminum sembilan butir obat kemudian ditambah menjadi 15 butir obat untuk sekali minum. Selama pengobatan tersebut, ia mengalami efek samping ringan hingga berat dan kejenuhan. Akhirnya pada tanggal 15 Maret 2013 Ully dinyatakan sembuh.

Menurut Ully, semangat dan tekad diri merupakan hal yang paling penting. Karena dukungan dari keluarga atau orang lain tanpa disertai keinginan dari dalam tidak akan menggerakkan kita untuk patuh berobat. "Bangkitkan rasa syukur di diri, karena masih ada obatnya. Apabila di tahun 2006 lalu pemeriksaan kebal obat sudah ada, mungkin saya sudah dirujuk, sehingga tidak berulang kali berobat," ujar Ully. Sekarang, Ully menerapkan pola hidup sehat dengan makan teratur, istirahat yang cukup, dan tidak begadang. Ia sangat bersyukur karena penyakit ini masih ada obatnya dan tidak mengeluarkan biaya.